Reportase | Selasa, 27 Oktober 2026
Pengukuhan Unit Koordinasi Cabang (UKC) Indonesian Society for Educational Evaluation (ISEE-HEPI) Kabupaten Tulang Bawang menjadi momentum untuk memperkuat budaya evaluasi dan mendorong peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini tidak sekadar menandai terbentuknya kepengurusan organisasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bagi para pegiat evaluasi pendidikan di Provinsi Lampung.
Berawal dari audiensi, berlanjut menjadi kolaborasi
Persiapan pengukuhan telah dilakukan melalui audiensi pada 2 Oktober 2026. Dr. Hj. Suresmi, M.Pd.I., CAH., CAU., bersama jajaran pengurus menemui Bupati Tulang Bawang, Drs. Qudrotul Ikhwan, M.M., di Ruang Audiensi Bupati.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun sinergi antara organisasi profesi dan pemerintah daerah. Salah satu gagasan program yang mengemuka adalah penyelenggaraan lomba pidato berbahasa Lampung bagi siswa dan pendidik. Gagasan ini mempertemukan dua kepentingan penting pendidikan: penguatan kompetensi dan pelestarian bahasa serta budaya daerah.
Dari ruang audiensi itu, harapan tumbuh bahwa organisasi evaluasi pendidikan dapat mengambil peran lebih luas, tidak hanya dalam pengukuran hasil belajar, tetapi juga dalam mendorong program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pagi di Tulang Bawang: budaya menyambut pendidikan
Rangkaian kegiatan pengukuhan dilaksanakan pada Selasa, 27 Oktober 2026. Sebelum acara resmi dimulai, panitia menggelar gladi pada pukul 07.30–08.00 WIB untuk memastikan setiap bagian kegiatan berjalan tertib.
Pembukaan berlangsung pukul 08.30 WIB. Tari Siger Pengunten yang dibawakan Sanggar Mejiku Etnik menjadi suguhan pembuka. Gerak tari dan busana tradisional menghadirkan suasana penyambutan yang lekat dengan identitas budaya Lampung.
Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu dirigen Hj. Dwi Iswati, M.Pd., Mars Tulang Bawang, dan Mars ISEE-HEPI. Kalam Ilahi serta doa kemudian mengiringi kegiatan, meneguhkan harapan agar pengukuhan ini membawa manfaat bagi dunia pendidikan.
Budaya dan pendidikan seolah bertemu di satu panggung. Di satu sisi, ada kebanggaan terhadap identitas daerah; di sisi lain, ada tekad untuk terus memperbaiki mutu pendidikan melalui evaluasi yang terarah.
Prosesi pengukuhan pengurus UKC Tulang Bawang
Memasuki acara inti pukul 09.30 WIB, Dr. Fardarita, M.Pd., membacakan susunan kepengurusan. Para pengurus kemudian maju ke panggung untuk mengikuti prosesi pengukuhan.
Prof. Dr. Undang Rosidin, M.Pd., membacakan naskah pengukuhan. Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen pengukuhan, penyerahan bendera organisasi, ucapan selamat, dan foto bersama.
Bagi para pengurus, momen tersebut bukan sekadar seremoni. Pengukuhan menjadi penanda dimulainya tanggung jawab organisasi untuk menghidupkan program, memperluas jejaring, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi pendidikan.
Organisasi profesi akan menemukan maknanya ketika struktur kepengurusan tidak berhenti sebagai daftar nama. Ia perlu bergerak menjadi ruang berbagi pengetahuan, berdiskusi tentang persoalan pendidikan, serta merancang kegiatan yang memberi manfaat bagi guru, siswa, dan masyarakat.
Kehadiran pengurus ISEE-HEPI UKD Lampung
Pengukuhan ini juga dihadiri jajaran pengurus ISEE-HEPI Unit Koordinasi Daerah (UKD) Lampung, yakni Prof. Dr. Undang Rosidin, M.Pd.; Dr. Fardarita, M.Pd.; Dr. Yetri Hasan, M.Pd.; Dr. Handoko, S.T., M.Pd.; dan Winarno, S.Pd.
Kehadiran pengurus tingkat daerah menjadi bentuk dukungan bagi tumbuhnya organisasi di tingkat kabupaten. Dukungan tersebut penting agar UKC Tulang Bawang tidak berjalan sendiri, melainkan terhubung dengan jejaring profesi yang lebih luas.
Melalui koordinasi antarpengurus, berbagai pengalaman dan gagasan dapat dipertukarkan. Praktik evaluasi pendidikan yang selama ini berkembang di satu wilayah bisa menjadi bahan pembelajaran bagi wilayah lain. Sebaliknya, persoalan lokal dapat memperoleh ruang diskusi dan solusi bersama.
Pengurus UKC Bandar Lampung turut hadir
Dukungan terhadap pengukuhan juga datang dari ISEE-HEPI UKC Bandar Lampung. Dyah Siti Nuarini, Siti Fatimah, Aseptina, dan saya, Winarno, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kami bertolak dari Bandar Lampung pada pukul 06.00 WIB. Perjalanan pagi menjadi bagian dari ikhtiar untuk memenuhi undangan sekaligus mempererat hubungan antarpengurus ISEE-HEPI di Lampung.
Ada hal sederhana yang kerap luput dari perhatian dalam sebuah acara organisasi: kehadiran membutuhkan kesediaan untuk meluangkan waktu, menempuh perjalanan, dan menyisihkan urusan lain. Namun, dari kesediaan itulah jejaring tumbuh. Pertemuan yang semula hanya berupa nama dalam grup komunikasi berubah menjadi jabat tangan, percakapan langsung, dan kesempatan menyamakan pandangan.
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, kami kembali menuju Bandar Lampung dan tiba sekitar pukul 15.00 WIB. Perjalanan pergi-pulang itu menjadi bagian dari cerita pengukuhan—sebuah perjalanan fisik yang sekaligus mencerminkan usaha merawat hubungan profesional.
Pemerintah daerah dan seminar evaluasi pendidikan
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Tulang Bawang diwakili oleh Sisilia Novitasarie, S.Sos., MPPM., Asisten Bidang Umum Kabupaten Tulang Bawang. Perwakilan pemerintah daerah membacakan sambutan Bupati sekaligus membuka seminar.
Kehadiran unsur pemerintah daerah menjadi sinyal penting bagi upaya mempertemukan organisasi profesi, pemangku kebijakan, dan pelaku pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan membutuhkan kerja bersama. Sekolah dan madrasah memiliki pengalaman langsung di lapangan, organisasi profesi menyediakan ruang pengembangan keilmuan, sedangkan pemerintah daerah memiliki peran dalam kebijakan dan dukungan program.
Selepas prosesi pengukuhan, kegiatan berlanjut dengan seminar pukul 10.30–11.30 WIB yang menghadirkan Dr. Handoko, S.T., M.Pd., sebagai narasumber. Seminar menjadi ruang untuk memperluas wawasan peserta mengenai evaluasi pendidikan dan relevansinya dengan upaya peningkatan mutu.
Evaluasi pendidikan bukan semata-mata urusan angka, nilai, atau peringkat. Di balik data terdapat proses belajar, strategi mengajar, dukungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kebijakan yang memengaruhi perkembangan peserta didik. Data evaluasi akan bermakna ketika digunakan untuk memahami persoalan dan menentukan langkah perbaikan.
Karena itu, evaluasi idealnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa hasil yang diperoleh?” Evaluasi juga perlu mendorong pertanyaan lanjutan: “Apa yang sudah berjalan baik, apa yang perlu diperbaiki, dan tindakan apa yang harus dilakukan setelah hasilnya diketahui?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadikan evaluasi sebagai bagian dari proses peningkatan mutu, bukan sekadar kewajiban administratif.
Menjadikan organisasi sebagai ruang bertumbuh
Rangkaian pengukuhan dan seminar berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, berakhirnya acara bukan berarti selesai pula pekerjaan organisasi. Justru setelah seremoni, tantangan sesungguhnya dimulai.
ISEE-HEPI UKC Tulang Bawang diharapkan mampu menyusun program kerja yang menjawab kebutuhan daerah, membangun komunikasi dengan sekolah dan madrasah, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Gagasan lomba pidato berbahasa Lampung, misalnya, dapat menjadi salah satu pintu untuk menghubungkan evaluasi pendidikan dengan pengembangan kompetensi dan pelestarian budaya.
Pada saat yang sama, pengurus perlu membangun tradisi berbagi praktik baik, berdiskusi tentang instrumen evaluasi, dan mendorong penggunaan hasil evaluasi sebagai dasar pengambilan keputusan. Program yang baik tidak harus selalu besar. Kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan memberi dampak nyata dapat menjadi fondasi yang kuat bagi organisasi.
Pengukuhan di Tulang Bawang pun membawa pesan yang lebih luas: mutu pendidikan tidak tumbuh hanya karena kita sering membicarakannya. Mutu memerlukan kesediaan untuk melihat kenyataan, membaca data dengan jujur, mengakui kekurangan, dan memperbaiki langkah.
Bagi saya dan rekan-rekan yang hadir dari Bandar Lampung, perjalanan menuju Tulang Bawang bukan hanya perjalanan menghadiri acara. Ada semangat kebersamaan yang ikut dibawa pulang—bahwa pekerjaan evaluasi pendidikan membutuhkan jejaring, keterbukaan, dan komitmen yang terus dirawat.
Sebab, pada akhirnya, organisasi profesi bukan sekadar tentang siapa yang dilantik atau jabatan apa yang tercantum dalam surat keputusan. Organisasi menjadi berarti ketika pengetahuan yang dihimpun mampu membantu guru mengajar lebih baik, sekolah mengambil keputusan lebih tepat, dan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Pengukuhan boleh selesai dalam hitungan jam. Namun, ikhtiar membangun mutu pendidikan adalah pekerjaan panjang yang menuntut kesetiaan, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar. ***
Video Dokumentasi
1. https://youtu.be/ngUwLpuiPRA?si=Ui4eS7fyIi4BRmJE
2. https://youtu.be/FhW_mCq_M24?si=TbUBkCmZ5-0fS9Ax
3. https://youtu.be/NoxK9WumzFU?si=FP_AyTojLqXNPaCB
4. https://youtu.be/JR5JyMU06qo?si=Hbv9CFra5cWjXPwJ
5. https://youtu.be/bZaEsvIX1io?si=5KkqLKJjOY9ifvDD
6. https://youtu.be/5s870JR3Edg?si=UP38j7KExvEwSRS6
7. https://youtu.be/obXjAb4enYE?si=NmsRTszR9HwI_MKX
8. https://youtu.be/1jUdR493IB0?si=dMbuCCkqbwEq3o4u
9. https://youtu.be/XCuxZaehQEo?si=EJfHG7sIPZf2LIGg
***Formulir Pendaftaran/Pemutakhiran Anggota >>> https://forms.gle/qqBuuXroaC3P6gNT6













